Ahlan wa Sahlan ayyuha zumala....

ketika kami termenung, ia datang dengan banyak cerita.

ketika kami terpuruk, ia datang dengan banyak harapan.

ia ada di mana-mana namun tak kemana-mana.

Jumat, 06 Januari 2012

sejarah singkat tentang tarekat al mu'tabaroh


1.      Sejarah munculnya tarekat

Asal-usul Tarekat Sufi dapat dirunut pada abad ke-3 dan 4 H (abad ke-9 dan 10 M). Pada waktu itu tasawuf telah berkembang pesat di negeri-negeri seperti Arab, Persia, Afghanistan dan Asia Tengah. Beberapa Sufi terkemuka memiliki banyak sekali murid dan pengikut. Pada masa itu ilmu Tasawuf sering pula disamakan dengan ilmu Tarekat dan teori tentang maqam (peringkat kerohanian) dan hal (jamaknya ahwal, keadaan rohani). Kehidupan para sufis  abad 3-4 H merupakan kritik terhadap kemewahan hidup para penguasa dan kecenderungan orientasi hidup masyarakat muslim pada materialisme. Keadaan ini memberikan sumbangsih pada terjadinya degradasi moral masyarakat. Keadaan politik yang penuh ketegangan juga memberikan peran bagi pertumbuhan sufisme abad tersebut. Maraknya praktek sufisme dan tarekat di abad ke 12-13 M juga tidak lepas dari dinamika sosial-politik dunia Islam.

Dari segi bahasa Tarekat berasal dari bahasa Arab at thariqah yang berarti jalan, sinonim dengan kata suluk. Maksudnya ialah jalan kerohanian. Dan pengertian Tarekat sebagai mana berkembang dikalangan ulama tasawuf adalah jalan atau petunjuk untuk melakukan suatu ibadah sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh rasulullah dan yang dicontohkan Beliau serta dikerjakan oleh para sahabatnya tabi’in, tabi’ tabi’in dan terus turun menurun sampai kepada guru, ulama-ulama secara bersambung dan berantai hingga pada masa kita ini

Pengertian di atas menunjukkan bahwa jalan yang ditempuh dalam ilmu tasawuf, melalui bimbingan dan latihan kerohanian dengan tertib tertentu, merupakan cabang daripada jalan yang lebih besar, yaitu Syariat. Termasuk di dalamnya ialah kepatuhan dalam melaksanakan syariat dan hukum Islam yang lain.Para sufi dalam melihat tingkat laku kerabat dan sahabat dekat mereka tercermin perasaan dan perbuatan mereka sendiri. Apabila mereka melihat kekeliruan dalam perbuatan tetangga mereka, maka mereka segera bercermin ke dalam perbuatan mereka sendiri. Kebiasaan di atas mendorong munculnya salah satu aspek penting gerakan tasawuf, yaitu persaudaraan sufi yang didasarkan atas cinta dan saling bercermin pada diri sendiri. Persaudaraan sufi inilah yang kemudian disebut Tarekat Sufi.

Munculnya tarekat membuat tasawuf berbeda dari gerakan zuhud yang merupakan cikal bakal tasawuf. Apabila gerakan zuhud mengutamakan ‘penyelamatan diri’ melalui cara menjauhkan diri dari kehidupan serba duniawi dan memperbanyak ibadah serta amal saleh, maka tasawuf sebagai organisasi persaudaraan (tariqah) menekankan pada ‘keselamatan bersama’. Di antaranya dalam bentuk pemupukan kepentingan bersama dan keselamatan bersama.[1]

2.      Perkembangan Tarekat

Dalam perjalanan sejarahnya, tarekat mengalami perkembangan dari masa ke masa. Menurut J. Spencer Trimingham yang dikutip Tim Penulis Eksiklopedi Tasawuf (2008), sejarah perkembangan tarekat secara garis besar melalui tiga tahap yaitu : tahap khanqah, tahap tariqah, dan tahap ta’ifah.

Tahap khanqah terjadi sekitar abad VIII M. Dapat digambarkan bahwa pada tahap ini tarekat berarti jalan atau metode yang ditempuh seorang sufi untuk sampai kepada Allah secara individual (fardiyyah). Latihan-latihan spiritual dilakukan secara individual. Kedua tahap tariqah, tahap ini terjadi sekitar abad X M, dan pada masa ini sudah terbentuk ajaran-ajaran, peraturan dan metode tasawuf, muncul pula pusat-pusat yang mengajarkan tasawuf dengan silsilahnya masing-masing.

Berkembanglah metode-metode kolektif baru untuk mencapai kedekatan diri kepada Tuhan dan di sini pula tasawuf telah mengambil bentuk kelas menengah. Tahap ketiga, ta’ifah, terjadi sekitar abad XV M, dan pada masa ini terjadi transisi misi ajaran dan peraturan dari guru tarekat yang disebut syaikh atau mursyid kepada para pengikut atau murid-muridnya. Pada masa ini muncul organisasi tasawuf yang mempunyai cabang di tempat lain . Pada tahap ta’ifah inilah tarekat sebagai organisasi sufi yang melesatrikan ajaran syaikh-syaikh tertentu. Maka muncullah nama-nama tarekat seperti Tarekat Qadiriyah, Tarekat Naqsyabandiyah dan Tarekat Syadziliyah.

Munculnya banyak tarekat dalam Islam pada garis besarnya sama dengan latar belakang munculnya banyak mazhab dalam fikih dan banyak firqah dalam ilmu kalam. Di dalam kalam berkembang mazhab- mazhab yang disebut dengan firqah, seperti Khawarij, Murji’ah, Mu’tazilah, Asy’ariyah, Maturidiyah, dan lain-lain. Di sini istilah yang digunakan bukan mazhab tetapi firqah, di dalam fikih juga berkembang banyak firqah yang disebut dengan mazhab, seperti Mazhab Hanafi, Maliki, Hambali, Syafi’i, Dzhahiri dan lain-lain.

Di dalam tasawuf juga berkembang banyak mazhab yang disebut dengan tariqah. Tarekat dalam tasawuf jumlahnya jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan perkembangan mazhab dan firqah dalam fikih maupun kalam. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa tarekat juga memiliki kedudukan atau posisi sebagaimana mazhab dan firqah-firqah tersebut di dalam syariat Islam.[2]

3.      Ajaran Tarekat

Ajaran-ajaran dalam tarekat dapat dibedakan menjadi dua; yaitu ajaran khusus dan ajaran umum. Ajaran yang bersifat khusus adalah amalan yang benar-benar harus dilaksanakan pengikut sebuah tarekat,dan tidak boleh diamalkan oleh orang diluar tarekat atau pengikut tarekat lain.

Amalan khusus ini bisa dilakukan secara individual (fardiyyah) maupun secara kolektif ( jama’ah). Sedangkan ajaran yang bersifat umum yaitu amalan-amalan yang ada dan menjadi tradisi dala tarekat, tetapi aamalan ini juga bisa dilakukan oleh masyarakat islam diluar pengikut tarekat. Namun untuk membedakan suatu amalan itu masuk dalam ajaran khusus atau ajaran umum, sangatlah sulit karena semua ajaran yang ada pada tarekat bersumber pada al-Quran dan hadist. Sehingga umat islam boleh dan bahkan harus mengamalkan ajaran-ajaran yang termaktub dalam al-Qur’an dan hadist tanpa terkecuali. Suatu yang dapat membedakan bahwa ajaran ini bersifat umum atau khusus adalah pada proses bai’at atau talqin. Apabila seseorang telah mengikuti prosesi tersebut pada suatu tarekat, maka ia akan diberikan amalan-amalan yang mempunyai cirri-ciri khusus dalam tarekat tersebut, walaupun umat islam lain yang bukan pengikut suatu tarekat juga mengamalkan ajaran-ajaran tersebut. Misalnya setiap tarekat mengajarkan istighfar, salawat, dan dzikir, tetapi biasanya memiliki ciri khusus tarekat tertentu. Walupun umat islam pada umumnya mengamalkan zikir itu, tetapi belum tentu secara khusus mereka telah mengikuti proses bai’at kepada seorang mursyid tarekat.[3]

4.      Tokoh-tokoh Tarekat
Adapun tokoh-tokoh tarekat diantaranya adalah:

  1. Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani pendiri tarekat Qadiriyah lahir pada tahun 470 H. di Bagdad dan meninggal pada tahun 561 H.(1164 M). penganutnya yang banyak di India, Afganistan, Bagdad.
  2. Syekh Muhamad bin Muhammad bahauddin Bukhari pendiri Tarekat Naqsyabandiyah , meninggal pada tahun 791 H. (1391 M). pengikutnya yang terbanyak di Malaysia.
  3. Syekh Ahmad Bin Abdul Hasan Ar-Rafi’i pendiri tarekat Rifaiyyah, meninggal pada tahun 570 H. (1175 M). penganutnya paling banyak di daerah Maroko dan Al-Jazair.
  4.  Syekh Abil Hasan Ali Bin Abdullah Bin Abdul Jabar Al-Syadzily pendiri tarekat Syadziliyah, meninggal pada tahun 655 H. (1256 M). pengikutnya terbanyak di daerah Afrika.
  5.  Syekh Abil Hasan Ali Bin Al-Sahrawardi pendiri tarekat Sahrawardiyah, meninggal pada tahun 638 H. (1240 M). pengikutnya yang terbanyak di daerah Afrika.
  6. Syekh Ahmad Badawy pendiri tarekat Ahmadiyah , meninggal pada tahun 675 H. ( 1276 M). pengikutnya yang terbanyak di daerah Maroko.
  7. Syekh Maulana Jalaluddin Ar-Rumi pendiri tarekat Maulawiyah, meninggal pada tahun 672 H (1273 M) Pengikutnya yang terbanyak di negeri Turki
  8. Syekh Abdullah Ba’lawy Haddad Al-Hamdany pendiri tarekat Haddadiyah, meninggal pada tahun th 1095 H. Penganutnya yang paling banyak di Jazirah Arab, Malaysia dan sekitarnya[4]

Dari uraian diatas kita dapat mengambil titik terang bahwa Asal-usul Tarekat Sufi  dapat dirunut pada abad ke-3 dan 4 H (abad ke-9 dan 10 M). Pada waktu itu tasawuf telah berkembang pesat di negeri-negeri seperti Arab, Persia, Afghanistan dan Asia Tengah.
Sejarah perkembangan tarekat secara garis besar melalui tiga tahap yaitu : tahap khanqah, tahap tariqah, dan tahap ta’ifah
Ajaran-ajaran dalam tarekat dapat dibedakan menjadi dua; yaitu ajaran khusus dan ajaran umum.
Adapun tokoh-tokoh tarekat diantaranya adalah Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani pendiri tarekat Qadiriyah, Syekh Muhamad bin Muhammad bahauddin Bukhari pendiri Tarekat Naqsyabandiyah, Syekh Ahmad Bin Abdul Hasan Ar-Rafi’i pendiri tarekat Rifaiyyah, Syekh Abil Hasan Ali Bin Abdullah Bin Abdul Jabar Al-Syadzily pendiri tarekat Syadziliyah, Syekh Abil Hasan Ali Bin Abdullah Bin Abdul Jabar Al-Syadzily pendiri tarekat Syadziliyah, Syekh Abil Hasan Ali Bin Al-Sahrawardi pendiri tarekat Sahrawardiyah, Syekh Ahmad Badawy pendiri tarekat Ahmadiyah, Syekh Maulana Jalaluddin Ar-Rumi pendiri tarekat Maulawiyah, Syekh Abdullah Ba’lawy Haddad Al-Hamdany pendiri tarekat Haddadiyah.



[1] http://www.al-shia.org/html/id/service/maqalat/009/03.html
[2]  Saidi Syekh Kadirun Yahya, Tasawuf dan Tarekat Naqsyabandiyyah ( Bandung: Angkasa,2008)27

[3]  Ibid  29
[4]  Imron Abu Amar, Sekitar Masalah Tarekat ( Kudus:Menara Kudus,1980), 25

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar